Posted by: gilangramadhan | 11 Agustus 2009

bunga

kumpulan bunga itu mungkin berpikir, keelokan tubuh merekalah yang membuat mereka layak dihargai, dibanggakan…
lalu mereka uraikan itu semua di depan mata-mata serigala,
yang lapar dan haus akan semua pesona yang mereka punya
(karena kami memang serigala)

tidakkah mereka menyadarinya?
bahwa semua bunga, ya semua bunga! adalah selayaknya mereka
lalu, tidakkah mereka menyadari? kebanggaan itu seharusnya pada apa yang mereka pelihara

itu semua, hanyalah unjuk keberanian,
keberanian menjual harga diri
bukanlah unjuk kemolekan, keelokan, harum, dan segala pesona yang dipunya
karena semua dari mereka memilikinya, sepenuhnya, tanpa cacat sedikitpun
namun, hanya sebagian dari mereka yang rela menjual harga dirinya

bunga yang cantik, hanya rela dipetik dengan cara yang pantas,
tidak untuk menjajakan dirinya di etalase, dan menjadi simbol kecantikan duniawi

Posted by: gilangramadhan | 7 Agustus 2009

refleksi (2)

kadang dalam hidup, ketika kita melihat ke dunia luar, kita dapati dunia penuh kesimpang siuran dan fatamorgana,
warta yang dihiasi ilusi, bukan sesuatu yang pasti,
nasihat-nasihat, yang sebagiannya menjerumuskan,
petuah-petuah, yang sebagiannya tak bijak,

mungkin itulah saatnya kita melihat ke dalam diri kita sendiri,
karena di sanalah kita kan melihat apa yang sesungguhnya kita inginkan, atau apa yang seharusnya kita inginkan,
apa yang menjadi tujuan kita, atau apa yang seharusnya menjadi tujuan kita,

maka ke sanalah seharusnya kita menuju, dengan segalah derap langkah, dan daya upaya,
ke sanalah segala sendi bergerak kompak,

karena di sanalah akhirnya kita temukan kebahagiaan sejati, atau kesengsaraan abadi,
bukan kesimpang siuran, bukan fatamorgana…

Pengantar

Tulisan ini sepenuhnya diilhami dari buku karya John Perkins

Dalam bukunya yang mengisahkan perannya sebagai seorang Economic Hit Man (EHM), John Perkins memberikan uraian bagaimana, dia dan sejawatnya sesama EHM melakukan serangkaian tindakan yang sistematis untuk “menjajah” suatu negara. Penjajahan ini tidak perlu diartikan sebagai penjajahan secara de jure, sehingga, meskipun secara de jure sebuah negara adalah sah dan berdaulat, maka secara de facto negara tersebut berada dalam pengaruh negara lain. Pengaruh ini, diuraikan oleh John, terutama dalam aspek ekonomi, di mana sumber daya yang dimiliki secara manipulatif dimanfaatkan untuk menyokong kepentingan negara “penjajah” tersebut, dan hanya sedikit sekali –jika tidak sama sekali, yang digunakan untuk kemanfaatan negara pemilik sumber daya tersebut.

Pertama-tama kenapa? Yang terjadi adalah, negara-negara yang menjadi sasaran para EHM adalah negara-negara berkembang dengan sumber daya yang vital bagi negara penjajah. Lalu, bagaimana? Hal inilah yang akan menjadi pembahasan utama dalam artikel ini.

Mereka, para EHM, datang kepada negara-negara tujuan (calon terjajah) dengan membawa sebuah ilusi eknomi. Ilusi ini menyatakan bahwa, kemajuan eknomi suatu negara adalah ditunjukkan dengan statistik-statistik sebagaimana yang mereka bawa. Ambil contoh adalah pertumbuhan ekonomi, yang dihitung dari PDB. Dalam kondisi ekstrim, kondisi bencana alam yang dahsyat, yang kemudian ditindaklanjuti dengan perbaikan infrastruktur secara massif akan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Hal ini ditunjukkan oleh angka-angka rekayasa mereka sendiri. Padahal secara substansi, yang terjadi adalah bencana, bukan begitu? (mereka bahkan menangguk untung dari penderitaan orang lain secara langsung)

Namun, bila ditilik lebih mendalam, siapakah yang mendapat manfaat terbesar dari pertumbuhan ekonomi dalam kasus ini? Tidak lain adalah perusahaan rekayasa dan konstruksi besar, yang mendapat megaproyek perbaikan infrastruktur tersebut. Bila ditilik lebih mendalam lagi, manfaat terbesar dari aktivitas perkonomian yang terus tumbuh ini adalah, apa yang oleh John Perkins diistilahkan dengan “lapisan teratas piramida ekonomi”, merekalah para pemilik modal, para kapitalis. Sementara mereka yang terserak di “dasar piramida ekonomi” nyaris tidak mendapatkan manfaat dari “angka-angka yang positif” tersebut.

Dengan dalih kemajuan, pertumbuhan, dll, para EHM lalu mengarahkan para penentu kebijakan, dan para pengambil keputusan kepada “cara yang benar” guna mencapai kemajuan-kemajuan ekonomi tersebut. “Cara yang benar” tersebut adalah dengan menyediakan infrastruktur yang dibutuhkan, seperti jalan raya, pembangkit listrik, dll, guna menyokong ekonomi yang terus tumbuh tersebut. Lalu, sebagaimana dimaklumi, negara-negara berkembang tidak memiliki cukup sumber dana untuk menggenjot investasi yang sedemikian massif untuk iming-iming pertumbuhan ekonomi yang bersifat ilusi tersebut.

Adakalanya, dan seringkali, iming-iming ini saja tidak cukup. Para penentu kebijakan biasanya juga diming-imingi dengan jaminan tertentu mengenai kekuasaannya dari negara penjajah. Yang artinya, negara penjajah tersebut akan mendukung segala tindak-tanduk penentu kebijakan di negara terjajah, betapapun illegal, amoral, dan buruknya tindakan tersebut, demi melanggengkan kekuasaan sang penentu kebijakan.

Kesepakatan-kesepakatan yang dibuat, pada akhirnya melahirkan perjanjian “bantuan” dari negara penjajah, atau melalui lembaga internasional (yang dikendalikan oleh negara penjajah) kepada negara (calon) terjajah. Begitu “bantuan” ini disepakati, cengkeram penjajah tanpa sadar telah menggelayuti negara terjajah, sedikit demi sedikit, pada akhirnya tidak ada yang bisa dilakukan oleh negara terjajah, selain menyerahkan kedaulatan de facto-nya kepada negara penjajah.

Teknik ini umumnya berhasil, namun tidak selalu. Kegagalan teknik ini, adakalanya dimodifikasi oleh EHM, sehingga menghasilkan keberhasilan yang sama, dengan teknik yang berbeda. Namun, pernah juga teknik ini gagal sama sekali. Biasanya ketika menghadapi pemimpin (negara calon terjajah) yang mempunyai keberanian, visi nasionalisme yang kuat, dan keyakinan yang teguh. Saat ini adalah saatnya para “serigala” (begitu John menyebutnya) bertindak. Pembunuhan berencana yang kasat mata menjadi saksi sejarah bagaimana para pemimpin tersebut menjadi martir dalam usaha membela negaranya masing-masing.

Ketika pada kondisi tertentu, “serigala” gagal menunaikan misinya, maka invasi merupakan jalan terakhir. Invasi yang dibungkus dengan dalih-dalih aduhai untuk mengelabui mata dunia. Dalih yang biasanya dikemukakan adalah alasan ideologis yang universal semisal Hak Asasi Manusia dan Demokrasi.

Melalui berbagai langkah, baik yang halus maupun kasar, pada akhirnya negara penjajah mendapatkan manfaat dan sumber daya yang mereka butuhkan.

Entah dengan dalih ilusi ekonomi (jika dilakukan dengan cara halus), atau pemulihan pasca “perang” (perang dalam tanda kutip, karena invasi adalah terminologi yang jauh lebih pas), negara penjajah akan memberikan “bantuan” yang dibutuhkan oleh negara penjajah.

Pada dasarnya, nyaris tidak ada uang yang mengalir keluar dari negara penjajah melalui “bantuan” tersebut. “Bantuan” tersebut selalu diiringi dengan syarat-syarat yang membuat uang hanya mengalir dari satu rekening ke rekening lain dalam negara penjajah, yang nantinya harus dibayar oleh negara terjajah, bagaimanapun caranya.

Umumnya, dengan berbagai dalil di atas, “bantuan” tersebut ditujukan untuk membangun (atau memulihkan) infrastruktur. Dan siapa yang harus ditunjuk sebagai pelaksananya? Tidak lain dari korporasi-korporasi besar dari negara-negara penjajah. Ini langkah pertama.

Selanjutnya, infrastruktur yang dibangun, yang berdalih pertumbuhan atau pemuliha, pada dasarnya diarahkan untuk menyokong kepentingan dari negara penjajah. Misalnya, infrastruktur yang baik dirancang untuk persiapan bagi korporasi besar negara penjajah untuk “berinvestasi” di masa depan di negara terjajah, yang pada hakikatnya untuk mengeruk sumber daya alam yang ada.

“Investasi” yang nantinya terjadi, jelas sekali tidak memihak kepentingan lokal, namun begitu, negosiasi dilakukan dalam posisi yang asimetris, yaitu pada saat negara terjajah sudah terlilit utang di masa lalu (melalui gerakan para EHM, “serigala”, atau invasi), sehingga posisi tawar negara terjajah lemah.

Korporasi pengeruk sumber daya tersebut berusaha di negara terjajah, mengeruk sumber dayanya, juga dengan mempekerjakan buruh murah di negara ybs. Keuntungan yang dinikmati penjajah berlipat ganda, sementara penderitaan yang dialami oleh negara terjajah juga berlipat ganda.

Mungkin, masyarakat negara penjajah tidak mengetahui fakta-fakta ini, dan seandainya mereka tahu, merekapun tidak akan setuju akan keadaan ini. Tetapi mereka tidak sadar, mereka hidup dalam pola yang mengharuskan adanya eksploitasi sumber daya dari negara lain untuk menutupi gaya hidup mewah mereka sendiri. Mereka adalah bagian dari penjajahan itu sendiri. Dan mereka tidak menyadari, bahwa mereka diciptakan untuk senantiasa menikmati kondisi tersebut, agar mau tidak mau, suka tidak suka mereka akan mendukung tindakan negara mereka, sebuah imperialism gaya baru, korporatokrasi.

Posted by: gilangramadhan | 25 Juni 2009

pasangan virtual

ini adalah hari yang sama. hari di mana dia beranjak bangun di pagi hari dengan tergesa-gesa, dan aku bangun dengan enggan. hari di mana kami melaluinya dengan beragam aktivitas masing-masing, yang aku lakukan karena ingin, atau karena dia harus.

hari ini berlalu seperti biasa pula….

sore telah datang, menggoda orang-orang untuk meninggalkan aktivitas, yang kebanyakan dilakukan karena kerharusan, dan beralih kepada aktivitas yang dilakukan karena keinginan. ya, saat pulang dari tempat kerja, bagi kebanyakan orang tentu menjadi saat-saat terbaik. saat, di mana kolega berganti keluarga, meja komputer berganti ruang keluarga.

maghrib, isya berlalu.  dan kini, kami, aku dan dia, duduk bersanding di ruang ini. ruang tempat keluarga bertemu muka, wajah-wajah yang tersenyum, bibir yang berucap, bercerita, dan jiwa-jiwa yang saling bercengkerama. televisi kami biarkan hidup, seperti biasa. kami biarkan suara dan gambarnya menjadi background dari kemesraan yang kami lalui bersama.

namun, ada yang tidak biasa kini. biasanya, sesaat setelah isya, dia memeluk si kecil dengan tubuhnya yang hangat dan senyum yang senantiasa tersungging. memberikan pemandangan terindah bagi si kecil, biar lelap tidurnya, biar indah mimpinya. selanjutnya, adalah waktu bagi kami, untuk menggantikan saat-saat yang tergadai di stasiun kereta, di tengah dinginnya dinding kantor, atau di naungan mentari pukul 2 yang membakar tanpa ampun. menggantikannya dengan kemesraan, hanya aku dan dia.

yang terjadi kini,adalah kami saling memunggungi, mata kami menatap, tidak ke satu sama lain dari kami, dengan kedua alis terkadang bertemu. sesekali menggumam, tersenyum, mengernyit, semuanya tanpa interaksi satu dengan lainnya, dan semuanya diiringi tarian jemari di atas tuts-tuts keyboard.

ya, semua berubah…

perubahan ini terjadi, hanya seminggu setelah kami membeli piranti berupa kotak kecil berwarna hitam, berisi sesuatu yang bisa menghubungkan kami dengan halaman-halaman html, asp, atau php dari server di seluruh belahan dunia. orang-orang menyebutnya modem, modulator demodulator.

dengannya, kini kami mengisi malam-malam dengan interaksi maya, lewat facebook, friendster, dan e-mail. kami tetap saling mencintai, kami tetap saling menyayangi, namun, kini kami bisa mengungkapkannya melalui serangkaian kode-kode biner yang diterjemahkan menjadi tulisan, ikon, atau gambar dari layar notebook masing-masing. kami bahkan bertukar komentar wall, sementara kami duduk bersebelahan, dan saling tersenyum dan mengedipkan mata.

tidak terlalu buruk juga, selama kami masih saling mencintai, media bukan masalah bukan? yah, walaupun ada juga aktivitas yang tidak bisa disandikan oleh sintaks-sintaks html, asp, atau asp.

Posted by: gilangramadhan | 23 Juni 2009

refleksi

usianya sungguh lebih muda dari saya. namun, kebijaksanaan untaian kata-katanya sungguh memesona. memang, tidak jarang saya menggodanya (ehm, sebenarnya mengejeknya), namun tidak terbersit sedikit kejengkelan dari wajah dan air mukanya. setidaknya, itulah yang dia tampakkan.

saat dia berkata, mengutip tepatnya, ‘hidup yang tidak direfleksikan adalah hidup yang tidak pantas dijalani’, saya lantas bertanya-tanya, ‘adakah hidup ini hidup yang pantas untuk dijalani?’ lalu, di pagi ini, saat saya menunggu saatnya beranjak dan beraktivitas, mengisi hari ini dengan sesuatu yang berguna, saya sempatkan untuk merefleksikan apa-apa yang terbersit dalam benak saya.

seesungguhnya, telah cukup lama halaman ini saya biarkan kosong, tak terawat. dalam kekosongannya yang lama itu, sesungguhnya telah banyak yang saya alami, yang sejatinya bisa saya refleksikan di halaman ini.

Februari 2009, hari Minggu sore, sekitar pukul 15:59, putri pertama kami lahir. Dinda Aisyah Abdillah, demikian kami memberinya nama. dalam remang sore hari di bantul kota, senyum pertamanya, yang dia hadiahkan untuk sang ayah, bahkan sebelum dia berikan kepada sang mama, telah menjadikan jingga sang mentari bahkan bersinar lebih indah. setetes-dua tetes madu yang kami siapkan kami hadiahkan kepada sang permata hati, sebagai balutan kasih sayang, yang semoga berdasarkan syariat yang kami anut.

dan dengan segala pernak-pernik yang dia bawa kepada hari-hari kami yang baru, kini Dinda, demikian kami memanggilnya, telah berusia empat bulan lebih. semoga, hari-hari yang indah bersama Dinda ini bisa terus kami lalui, dalam kesyukuran dan kesabaran, dan menjadikan segala kasih sayang yang kami berikan kepada Dinda, sebagai investasi amal shalih, yang juga akan membuahkan ke-shalihah-an dalam diri Dinda, amin.

Posted by: gilangramadhan | 3 April 2009

Demokrasi Erotis

Pemilihan legislatif tinggal menghitung hari. Kalo sesuai jadwal, pada saat tulisan ini diposting berarti pileg tinggal 6 hari lagi. Banyak hal yang menarik yang bisa diulas dari “pesta rakyat” kali ini. Dari mulai koalisi “putus-sambung” (kayak lagunya BBB aja) yang ngga jelas asal-usul ideologisnya yang penting kebagian kursi, dana pemilihan umum 25trilyun perak yang kalo dibeliin krupuk kulit mungkin bisa ngurug Jakarte, ampe banyaknya potomodel-potomodel dadakan yang cengar-cengir, cengengesan, nunjuk sana-sini di poster-poster, spanduk, umbul-umbul, dll.
Nah, yang nggak kalah serunya untuk diulas adalah kampanye terbuka yang dilakukan parpol-parpol peserta pemilu. Beberapa waktu lalu, liat berita di salah satu stasiun televisi swasta yang jargonnya adalah referensi pemilu, kampanye terbuka salah satu parpol, sebut aja Partai Kyai Berantem. Dalam kampanye terbuka itu, seperti biasa, ada panggung. Panggung itu sewaktu-waktu dipake orasi para caleg, sewaktu-waktu dipake goyang para artis dangdut. Lucunya adalah waktu ntu panggung dipake orasi para caleg, penontonnya sepiiiii… banget. Mereka pada mojok nyari tukang es, ato ngadem di bawah pu’un beringin. Maklum, sebab kliatannya sih lapangan tempat kampanye tu panas terik. Eh tapi, pas panggungnya dipake artis dangdut pada goyang, lah koq arena jadi rame lagi?! Padahal matahari lagi demen-demennya nangkring di atas kepala.
Lagi, tadi malem nonton stasiun tipi swasta yang sama. Ada “pertunjukan bicara” (=talk show???) dengan anggota Bawaslu, Ibu… siapa gitu namanya, lupa. Yang dibahas adalah goyang erotis saat kampanye. Hasil kesimpulannya sih kurang lebih: artis dangdut goyang erotis tidak melanggar aturan, sepanjang tidak ada laporan ato keberatan dari warga sekitar. Ya sudahlah, kalo kesimpulannya begitu tak apalah. Toh melanggar juga tidak ada tindakan apa-apa toh?! Tapi yang serunya adalah, Ibu anggota bawaslu itu kan bilang kalo kampanye terbuka itu sebenernya adalah arena “jual diri” para parpol. “jual diri” itu dilakukan untuk meyakinkan kostituen dan calon pemilih akan kelayakan parpol itu dipilih. Yang dijual ya visi, misi, program, dan langkah-langkah kongkrit. Tapi yang muncul di layar tipi saya adalah banyaknya (sebagian besar mungkin) parpol yang “jual diri” dengan goyang dangdut yang… ah, kalo bilang erotis kesannya terlalu provokatif, tapi emang begitu sih…. alasannya, parpol lebih mementingkan “memenuhi kebutuhan” calon peserta kampanye. Lah, berarti para peserta kampanye itu kan lebih “butuh” goyang dangdut daripada program, visi, misi, bla, bla, bla parpol kan?
Dalam kampanye terbuka itu seharusnya ada unsur edukasi politik bagi rakyat. Tapi kalo begini? Edukasi macam apa? Mungkin… kampanye goyang dangdut ini adalah potret tingkat intelektualitas para pemilih kini? Hmmm… kalo di dunia ada demokrasi liberal, dulu kita punya demokrasi terpimpin dan demokrasi pancasila, mungkin, sekarang eranya demokrasi erotis?!?!?!

Posted by: gilangramadhan | 12 Januari 2009

re-fokus-isasi

Dalam banyak pemberitaan, seringkali kita dengar pernyataan dari pejabat-pejabat keuangan negeri ini mengenai “tingkat inflasi”, “pertumbuhan ekonomi”, “tingkat suku bunga”, dll. Istilah-istilah tersebut merefleksikan kondisi makro ekonomi yang terjadi.

Di masa krisis ekonomi global seperti sekarang ini, pemerintah dihadapkan pada ancaman jebloknya indikator-indikator makro ekonomi tersebut. Resesi yang terjadi amerika, berakibat langsung terhadap industri berbasis ekspor. Celakanya, negara-negara lain seperti uni eropa dan jepang yang diharapkan dijadikan alternatif pasar ekspor juga mengalami dampak dari krisis ekonomi yang sama. Celakanya (lagi!), raksasa-raksasa baru ekonomi seperti Cina dan India telah mempersiapkan diri menghadapi krisis ini dengan memfokuskan hasil industrinya kepada pasar domestik. Dengan begitu, hampir dipastikan insdustri kita kehilangan –atau setidaknya mengalami pengurangan- permintaan. Hal ini berdampak langsung kepada kemampuan keuangan perusahaan-perusahaan. Ujung-ujungnya, ancaman PHK masal-pun membayang.

Berulang kali kita dengar, pejabat-pejabat terkait berusaha meyakinkan rakyat (dan diri mereka sendiri mungkin) tentang optimisme tercapainya target pertumbuhan ekonomi tahun 2009. Sementara para kritikus justru melontarkan analisis yang berkebalikan. Pemerintah berkeyakinan telah mengeluarkan segala jurus ampuh untuk menangkal dampak krisis, sehingga ekses negatifnya dapat ditekan seminimal mungkin

Semua upaya yang telah dilakukan pemerintah tentunya patut diapresiasi. Meskipun, reaksi masyarakat tidak sedikit juga yang melontarkan tentangan keras. Unjuk rasa atas SKB 4 Menteri yang marak belakangan ini merupakan salah satu contohnya. Harus dimaklumi, pemerintah memang menghadapi buah simalakama. Jika mekanisme upah buruh  tidak “diotak-atik”, risiko kebangkrutan perusahaan-perusahaan justru semakin besar. Hal ini (sederhananya) diakibatkan oleh biaya operasional (termasuk upah buruh) yang jauh lebih besar daripada omzet. Akibat lanjutannya adalah risiko PHK masal semakin besar. Ketika upah buruh (terpaksa) “diotak-atik”, tidak semua pihak mampu memahami dengan jelas duduk perkaranya, dan yang muncul adalah penentangan.

Turunnya omzet industri dan turunnya ekspor merupakan lonceng tanda bahaya terhadap perekonomian nasional. Hal ini mengingat tingkat ketergantungan industri-industri tertentu terhadap pasar ekspor yang cukup tinggi. Sementara jumlah tenaga kerja yang diserap cukup besar, baik yang formal maupun informal. Sayangnya, Indonesia (mungkin) terlanjur –atau melangkah terlalu jauh- berupaya menjadi negara industri. Inilah (salah satu) fundamen perekonomian negara ini.

Dalam upayanya menjadi negara industri, Indonesia memfokuskan pembangunan ekonominya pada industri skala besar dan berorientasi ekspor. Pertumbuhan ekonomi, dan penyerapan tenaga kerja digenjot dari investasi-investasi pada industri-industri semacam ini. Ketika investor nasional tidak mempunyai cukup daya dukung, investor asing menjadi pilihan.

Dalam rangka menarik investor asing, berbagai upaya telah dilakukan. Kepastian hukum, jaminan keamanan, dan daya dukung infrastruktur menjadi sebuah keharusan bagi investasi asing jangka panjang. Ketika unsur-unsur tersebut belum terpenuhi, instrumen keuangan yang longgar menjadi solusi efektif.

Sayangnya, di masa krisis, fokus ekonomi s.d.a. disertai dengan infastruktur pendukungnya membuat negeri ini semakin rentan dengan dampak negatif dari krisis. Setelah dampak negatif dari kemunduran ekonomi di negara-negara tujuan ekspor, krisis semakin membuat dana-dana asing yang diperoleh melalui pasar uang rentan ditarik kembali. Penarikan besar-besaran (seperti yang terjadi pada masa sebelum krisis 1998) bisa saja terjadi. Untungnya hal ini sudah diantisipasi pemerintah. Akan tetapi, hal ini tidak mengurangi dampak negatif dari tidak langgengnya investasi semacam itu. Surutnya investasi asing (cepat atau lambat) berdampak langsung pada surutnya perekonomian nasional.

Jika demikian, apa yang harus dilakukan?

Mungkin inilah saatnya fokus perekonomian Indonesia ditata ulang. Saatnya beralih dari industri-indutri skala besar berorientasi ekspor menjadi industri lokal beorientasi domestik. Masih banyak kebutuhan dalam negeri yang belum terpenuhi. CPO kita diekspor, sementara ibu-ibu rumah tangga antri minyak goreng. Sebaliknya, ketika petani tebu mengeluh karena jatuhnya harga setelah panen, gula impor justru datang menyerbu.

Dengan jumlah penduduk 220 juta jiwa lebih, Indonesia sejatinya tidak akan kekurangan permintaan domestik. Kekurangan permintaan domestik lebih disebabkan kurangnya daya beli masyarakat. Hal ini secara tidak langsung berakibat pada turunnya kualitas hidup, atau beredarnya komoditi ilegal. Karena bagaimanapun, kebutuhan hidup tidak bisa ditawar-tawar toh? Tidak mampu membeli disiasati dengan mengkonsumsi komoditi tak layak atau mencari komoditi ilegal, keduanya dengan harga yang mampu dijangkau daya beli masyarakat.

Yang perlu dioptimalkan dan dikembangkan adalah industri-industri hulu s.d. hilir yang berorientasi pasar domestik, dan terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat. Diharapkan, barang-barang impor (terutama komoditi primer) tidak dapat bersaing dengan produk lokal. Industri-industri ini memerlukan modal utama enterpreneurship dan dana dengan jumlah jauh lebih sedikit dibandingkan industri-industri skala besar. Keuntungan lainnya adalah, industri semacam ini kebanyak bersifat padat karya, sehingga jumlah tenaga kerja yang diserap lebih banyak.

Ketika kebutuhan rakyat Indonesia telah terpenuhi, barulah dialokasikan untuk kegiatan ekspor, dan sebaliknya. Sehingga, perekonomian nasional tidak terlalu bergantung kepada kondisi perekonomian global.

Tentunya, pengalihan fokus tidaklah semudah membalikkan telapak tangan gajah. Ya! Begitu banyak tantangan dan hambatan yang harus diatasi. Hambatan utama dalam rangka memperkuat fundamen ekonomi menjadi industri lokal berorientasi lokal pula antara lain struktur ekonomi dan pasar bebas.

Struktur ekonomi tidaklah lentur seperti pemuaian besi. Panjang muai besi berbanding lurus dengan panas yang diberikan, sehingga semakin panas, muai besi semakin panjang. Mengubah tatanan ekonomi membutuhkan kerja yang luar biasa keras dan cerdas. Bagaimana sistem dan infrastruktur yang ada –diadakan dalam rangka menunjang suatu struktur ekonomi- harus diperlakukan, dan bagaimana sistem dan infrastruktur baru perekonomian harus dibangun, sementara kehidupan terus berjalan, dan kebutuhan hidup tidak berhenti. Butuh suatu kajian tersendiri akan hal ini.

Berikutnya, pasar bebas yang membuat negara-negara di dunia kini menjadi “tidak pernah benar-benar berdaulat”. Karena bagaimanapun, secara ekonomi, suatu negara sangat terpengaruh kondisi lain di luar negara tersebut. Ketika ingin melindungi produk lokal dengan mekanisme tarif impor, siap-siaplah untuk diprotes negara produsen komoditi tersebut. Pasar bebas, dengan IMF, World Bank, dan WTO sebagai gembongnya, telah menciptakan ilusi ekonomi dengan imannya terhadap “invisible hands” yang akan membawa perekonomian ke titik ekulibriumm –yang s.d. sekarang tidak pernah tercapai- sementara kelompok kapitalis menikmati keunggulan komparatifnya dari kapital yang dimiliki, dan kelompok miskin semakin terjerat ketergantungan terhadap pasar yang dikuasai mereka. Pasar bebas tidak benar-benar bebas dari distorsi, pemilik modal bahkan bisa mendistorsi informasi guna kepentingannya. Pada akhirnya, kapital (modal)-lah yang menjadi penentu.

Tantangan dan hambatan ada untuk diatasi. Butuh orang-orang cerdas dan tekun luar biasa untuk mengatasinya. Dan tidak hanya itu, butuh orang-orang cerdas luar biasa dengan keimanan kuat untuk bertawaqqal kepada Yang Maha Kuasa atas hasil yang akan diraih.

Tags:

Posted by: gilangramadhan | 31 Desember 2008

terminologi offensif vs defensif

saya mendefinisikan istilah “menyerang” dengan menempatkan sumber daya tertentu di titik pertahanan musuh, atau setidaknya dekat, guna membongkar pertahanan mereka. sebaliknya, “bertahan” saya definisikan dengan menempatkan sumber daya pada daerah sendiri guna mempertahankan diri dari serangan musuh.

dalam sepakbola, terdapat perbedaan yang besar antara peran seorang cristiano ronaldo dengan gennaro gattuso, meskipun keduanya merupakan gelandang. ronaldo berperan lebih banyak di daerah pertahan lawan, dan bertugas membongkar pertahanan lawan dengan gocekkan mautnya atau umpan-umpannya yang terukur. sementara gattuso berperan sebagai garis pertama pertahanan dan bertugas memblok aliran bola ke daerah pertahanan sendiri.

contoh ini menjadi lebih ekstrim lagi manakal membandingkan seorang luca toni dengan fabio cannavaro dan bahkan gigi buffon.

penggemar sepakbola dunia mungkin kecewa manakala di tahun 2004, Yunani menjuarai piala eropa di Portugal dengan memainkan sepakbola defensif ortodox yang membosankan. dengan menumpuk 8 pemain di daerah pertahanan dengan theodoros zagorakis sebagai garis pertama pertahanannya, Yunani meninggalkan angelos charisteas di depan sendirian sebagai pemain menyerang. mereka fokus bertahan dengan mengandalkan serangan balik sporadis yang cepat dengan mengandalkan charisteas di depan.

taktik defensif ini sungguh membosankan, namun nyatanya efektif. dan tak bisa dipungkiri, bagaimanapun, fakta berbicara Yunani juara eropa 2004, sekali lagi dengan permainan defensifnya.

namun, rupa-rupanya definisi saya tersebut salah. gordon johnroe  dengan tegas mementahkan definisi saya tersebut. dalam pernyataannya, serangan rudal isreal ke jalur gaza dianggap sebagai upaya mempertahankan diri. sementara serangan sporadis roket-roket hamas adalah aksi offensif.

jika begitu, dunia seharusnya tidak perlu terlalu kecewa bukan? juara eropa 2004 ternyata memainkan sepakbola offensif -menurut definisi Johnroe-, bukan begitu? begitu bukan?

Tags:

Posted by: gilangramadhan | 22 Desember 2008

hari ibu itu ada, setiap hari….

hari ini, 22 Desember, seperti biasa “kita” semua memperingati hari ibu dengan beragam seremonia. entah apa tema hari ibu kali ini, dan entah bagaimana perayaan yang dilakukan.

entah mengapa, saya bertanya-tanya tentang esensi dari peringatan hari ibu ini. entah mengapa, peringatan demi peringatan atas momen tertentu bagi saya hanya menghasilkan seremonia yang kering dari makna, dan jauh sekali menyentuh substansi. entah mengapa, ketika setiap tahun dilalui, dengan tanggal 22 Desember di dalamnya, namun, tidak banyak perbaikan berarti dengan peringatan-peringatan tersebut.

apakah, kita, bangsa Indonesia ini memang bangsa yang gemar dengan seremonia, formalitas, dan yang semacamnya itu?

coba tanya kepada nur hidayah apa manfaat peringatan hari ibu baginya, ketika demi sang buah hati, dia rela menerabas risiko akan “pekerjaan”-nya.

bagi kita yang masih mempunyai seorang ibu, hari ibu itu ada dalam setiap hari-hari yang kita lalui. hari ibu itu ada manakala kita memuliakan dan memperlakukan ibu seperti seharusnya. karena kita tidak pernah tahu, apakah kita ada kesempatan bagi kita bertemu lagi dengan tanggal 22 Desember hanya untuk memperingati hari ibu. kenapa bukan sekarang? saat kita masih punya kesempatan, saat beliau masih ada untuk kita muliakan,….

bagi saya, hari ibu mungkin bermanfaat manakala hari itu dijadikan hari libur nasional, tidak yang lain.

Tags:

Posted by: gilangramadhan | 28 Nopember 2008

cerita kereta-bagian dua

setelah sebelumnya harus berdiri cukup lama di atas kereta ekspress, yang ini lebih buruk lagi.

seperti biasa, ketika istriku tercinta tidak di rumah, bangun dan berangkat pagi masih merupakan sebuah kemewahan bagiku, apalagi ditambah sarapan nasi gongseng favorit, jauh deh. jam 6, aku sengaja tidak bersiap untuk segara berangkat kerja. mengingat aku masih diklat, maka memang tidak perlu juga untuk berangkat buru-buru, toh diklat mulai jam 9. “naik ciujung 7.29-pun masih aman”, pikirku.

jam 6, aku sempatkan menontoh tayangan olahraga dari stasiun tv swasta. berharap dapat menyaksikan cuplikan (highlight) pertandingan piala UEFA tadi malam, walaupun cuplikan milan vs portsmouth tidak disiarkan. hampir jam 7 aku baru beranjak mandi (terlalu!). lalu, pukul 7.15, aku sudah siap sedia untuk berangkat.

normalnya, tidak sampai 10 menit dari rumahku untuk sampai ke stasiun sudimara. namun, memang ingin santai, aku berjalan santai saja. 10 menit kemudian, baru sampai di staisun. jam di J230i-ku menunjukkan pukul 07.38 (dicepetin 10 menit memang), artinya bari jam 7.28. ting-nung-ning-nung, terdengar isyarat kedatangan kereta. dari patugas stasiun aku mengetahui bahwa yang datang adalah krl ekspress kota (jadwalnya jam 07.20), sedikit terlambat ternyata. ya sudah, aku naik mana yang duluan saja, daripada menunggu lebih lama.

populasi dalam kereta normal-normal saja, tidak terlalu penuh. namun, cerita “normal”-nya sampai di sini saja. belum terlalu lama kereta itu berjalan, kereta berhenti di pinggir tol. kami di dalam hanya berpikir kalau berhenti di silang masuk saja. namun 15 menit nampaknya terlalu lama untuk berhenti di persilangan.

lalu, dari arah depan, serombongan pria berseragam PT KAI menginformasikan bahwa terjadi kereta mogok (LAGI?!?!?!) di stasiun pondok ranji. dan karena pondok ranji tidak mempunyai jalur langsir, opsi yang kami (penumpang) miliki adalah pindah ke kereta ciujung di belakang kereta ini. “ini pasti ngga bagus!” pikirku.

dan ketika 5 menit kemudian ciujung tiba, sebagian besar (hampir semua!) penumpang krl ekspress kota pindah ke ciujung. bisa dibayangkan, ciujung yang semi-ekspress yang normalnya sudah penuh (kalo baca koran harus ngintip), ditambah lagi sejumlah besar penumpang dari krl ekspress. di dalam sudah luar biasa penuh. dan aku termasuk penumpang yang agak terdesak ke dalam. di depanku, persis, seorang ibu terengah-engah terdesak-desak oleh orang-orang yang masih merangsek masuk.

itu belum seberapa. pintu ciujung dibiarkan terbuka karena di dalam luar biasa penuh. aku bahkan bisa teridur danpa harus berpegangan. sebentar saja kereta sudah sampai di stasiun pondok ranji. dan, ini yang mengkhawatirkan, banyak penumpang krd (yang mogok itu) memaksa masuk ke ciujung. di dalam kami mendengar teriakan-teriakan “goblok”, “udah penuh ini!”, “kasian di dalem!”, “mikir dong woi!”, dan yang semisalnya. terdengar juga gebrakan-gebrakan di dinding kereta. ibu-ibu di depanku nampak melafalkan dzikir…

to be continued…

Tags: ,

Older Posts »

Categories